Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Mempertahankan Kemabruran Haji

  • Diposting Oleh Widya Yuni Wulandari
  • Kamis, 2 Juli 2026
  • Dilihat 166 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Ketua Program Studi Doktor Ilmu Syariah UIN Madura)

Rangkaian pelaksanaan ibadah haji atau manasik haji tahun 1447 Hijriyah atau tahun 2026 sudah selesai dan berakhir sejak pelaksanaan tawaf wada’ dari kloter terakhir. Setelah mereka melaksanakan rangkaian manasik haji, mereka kemudian bergerak menuju Madinah untuk berziarah, yaitu ke Masjid Nabawi dan masjid Kuba’, serta berziarah ke makam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan munajat kepada Allah di Raudhah. Setelah itu mereka pulang ke tanah air dan berakhirlah semua rangkaian pelaksanaan ibadah haji baik yang wajib maupun yang sunnah.

Kepulangan jemaah haji ke tanah air pun sudah berakhir dan itu ditandai dengan datangnya kloter terakhir di debarkasi Surabaya, yaitu kloter 116 yang landing dengan selamat di Bandara Juanda, kemaren, tangggal 1 Juli 2026. Begitu pula di debarkasi yang lain, seperti debarkasi Makassar, di mana yang terakhir mendarat di Bandara Hasanuddin itu adalah kloter 43. Kedatangan kloter 116 di debarkasi Surabaya mendapatkan apresiasi yang tinggi dari Menteri Urusan Haji dan Umroh, Kyai Haji Irfan Yusuf, di mana beliau menyatakan syukur alhamdulillah pelaksanaan ibadah haji tahun ini berjalan dengan lancar dan seluruh kloter sudah berhasil pulang dan tiba di tanah air dengan selamat. Tentunya hal  itu merupakan sesuatu yang diharapkan oleh semua pihak tidak terkecuali Kementerian Haji dan Umroh serta seluruh keluarga jemaah haji di Indonesia yang menunggu kepulangan mereka ke kampung halaman dan rumah mereka masing-masing.

Ibadah haji memberikan sumbangan yang tinggi atau sangat berpengaruh kepada seluruh jemaah haji untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji, baik yang wajib maupun yang sunnah. Seluruh jemaah haji terlihat sangat bersemangat menjalankan ibadah, baik di Mekkah maupun di Madinah. Indikator tersebut menandakan bahwa mereka mendapatkan ibadah haji yang mabrur, karena mereka terlihat nyata semakin baik, karena kata mabrur itu sendiri berasal dari kata al-birr, yang berarti baik. Maka jika mereka semakin baik, itu merupakan sebuah tanda bahwa mereka itu mabrur hajinya. Namun apakah hakikat kemabruran haji seperti yang terlihat di Mekkah dan Madinah? Mungkin kita perlu melihat beberapa faktor mengapa mereka para jemaah haji sangat bersemangat beribadah di Mekah dan Madinah.

Kemungkinan mereka merasa eman jika kesempatan yang ada itu tidak digunakan untuk dimanfaatkan sebanyak-banyaknya. Mereka sudah menunggu 14 tahun untuk bisa berangkat haji mulai dari penyetoran awal pendaftaran haji. Jadi itu juga merupakan faktor yang perlu diperhatikan. Kemudian berikutnya, mereka sudah mengeluarkan biaya yang cukup besar, bukan hanya biaya perjalanan pelaksanaan ibadah haji, melainkan juga biaya-biaya yang lain, seperti selamatan keberangkatan dan kepulangan. Itu juga memerlukan biaya yang begitu besar sehingga eman jika tidak dimanfaatkan. Maka, selama di Mekkah dan Madinah harus dipergunakan untuk beribadah. Faktor berikutnya yang paling berpengaruh yaitu karena ibadah di Mekkah dan Madinah berbeda dengan ibadah di selain kedua kota tersebut, termasuk di kampung halaman. Shalat di Masjidil Haram pahalanya 100.000 kali lipat dari shalat di kampung halaman. Shalat di Masjid Nabawi pahalanya seribu kali lipat daripada shalat di kampung halaman. Dengan besarnya pahala tersebut mereka berharap pahala yang begitu besar itu bisa mengisi pundi-pundi pahala yang bisa dibawa nanti ke kehidupan di akhirat.

Apakah hanya itu yang dianggap dengan haji mabrur? Menurut Sebagian ulama kemabruran haji itu sebenarnya bisa dilihat setelah jemaah haji itu pulang dan bersosialisasi, berinteraksi dengan orang-orang, baik di dalam keluarga maupun dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Jika ibadah mereka lebih rajin dan lebih baik daripada sebelum mereka menunaikan ibadah haji, hal itu juga menjadi pertanda bahwa hajinya mabrur. Jika shalat mereka semakin rajin berjemaah ke masjid atau mushola, kemudian mereka juga rajin bersedekah, serta akhlak mereka semakin baik terhadap pergaulan di dalam keluarga maupun di masyarakat, itulah pertanda haji mabrur. Demikian pula jika mereka semakin terbebas menjauh dari pergaulan tidak sehat, menjauh dari maksiat dan segala perbuatan dosa, itulah kemabluran yang nyata. Namun sebaliknya, jika mereka semakin menjauh dari kebaikan, shalatnya semakin abai, sedekahnya semakin tidak kelihatan, pergaulannya tidak menunjukkan tanda-tanda kebaikan atau bahkan justru berdampingan bahkan membersamai kemaksiatan, itulah mungkin jauh dari kemabruran.

Namun perlu disadari secara husnuddzon, semua jemaah haji dan bahkan orang-orang yang menyambut kedatangan mereka berharap semuanya mabrur. Dan saya yakin semua ibadah haji mereka diterima oleh Allah subhanahu wa ta'ala, juga saya yakin haji mereka semuanya adalah mabrur. Tinggal sekarang bagaimana mempertahankan kemabruran haji. Hendaklah kebaikan itu diintegrasikan ke dalam diri kita, karena sebenarnya bukan hanya ibadah haji yang bisa mengantarkan seseorang ke surganya Allah subhanahu wa ta'ala, akan tetapi seluruh rangkaian ibadah, terutama shalat. itulah yang dijadikan sebagai modal bagi seseorang untuk bisa masuk ke surganya Allah subhanahu wa ta'ala.

Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW memberikan penjelasan terkait pahala haji mabrur.

 

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga.”

Kemabruran merupakan hak mutlak Allah SWT untuk disematkan kepada hamba-Nya sesuai iradah-Nya. Haji mabrur dapat dilihat ciri-cirinya. Rasulullah SAW pernah memberikan sinyal tanda-tanda bagi setiap orang yang mendapatkan predikat mabrur hajinya. Dalam hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Beliau bersabda sewaktu ditanya oleh para sahabat.

قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: "إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

“Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, Memberikan makanan dan menebarkan kedamaian.”

Al-Hakim dalam kitab Mustadrak-nya, meriwayatkan sebuah hadits;.

سئل النبي ما بر الحج قال إطعام الطعام وطيب الكلام وقال صحيح الإسناد

“Rasulullah SAW ditanya tentang haji mabrur. Rasulullah kemudian berkata, ‘Memberikan makanan dan santun dalam berkata.’ Al-Hakim berkata bahwa hadits ini sahih sanadnya.”

Jika akhlakul karimah sudah terintegrasi dalam diri seorang, maka insya Allah selamanya akan selalu berada dalam kebaikan, dan setiap tindak tanduknya akan selalu menunjukkan tindakan yang baik, sifat-sifatnya menjadi sifat yang baik. Kemudian juga dari perilaku yang baik Itulah juga akan mendatangkan kemabruran, yang menjadi semakin baik pula bagi dirinya, bagi keluarganya dan juga bagi masyarakat di mana mereka tinggal. Itulah sebenarnya kemabruran haji yang harus dipertahankan dan selalu diupayakan agar apa yang kita lakukan sehari-hari itu bisa menjadi bermanfaat dalam kehidupan, sehingga kemanfaatan itulah yang menjadi buah dari kebaikan, dan tidak terkecuali dalam kemabruran haji. Selamat datang seluruh jemaah haji di tanah air, selamat berkumpul lagi dengan keluarga dan masyarakat di sekelilingnya. Semoga Haji mereka semuanya tetap selalu mabrur baik di hadapan Allah maupun di hadapan sesame.

 


Editor: Achmad Firdausi