Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Memahami Makna Gerakan dalam Shalat

  • Diposting Oleh Widya Yuni Wulandari
  • Kamis, 11 Juni 2026
  • Dilihat 343 Kali
Bagikan ke

Oleh: Zainol Hasan

(Kepala Ma’had al-Jami’ah UIN Madura)

Shalat merupakan epicentrum spiritualitas dalam konteks kehidupan religiutas seorang Muslim. Imam Mutawalli al-Sya’rawi dalam kitab Tafsir al-Sya’rawi menjelaskan, Shalat mencakup semua rukun Islam yang lain. Dalam Shalat, terdapat pengakuan iman (syahadah) yang diulang: “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah.” Dalam Shalat,  terdapat zakat, karena zakat bagian dari perbuatan, dan perbuatan bagian dari waktu, sedangkan Shalat itu sendiri membutuhkan waktu. Dalam Shalat,  terdapat puasa, karena ketika Shalat, kamu menahan diri dari sesuatu (makan, minum, ucapan yang membatalkan shalat) seperti kamu menahan diri dari sesuatu yang membatalkan saat berpuasa. Dalam Shalat juga terdapat ibadah haji, karena ketika Shalat, kamu sedang menghadap Ka'bah.

Dalam kitab Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, Syekh al-Jurjawi menguraikan dengan menarik makna filosofis gerakan dalam ibadah shalat. (Hikmah at-Tasyri’ wa Falsafatuhu [Beirut: Dar al-Fikr], juz 1, h. 76-78), sebagai berikut:

Berdiri: Etika Kehadiran di Hadapan Yang Maha Tinggi

Secara fitrah, manusia memiliki naluri untuk bersikap tenang dan tertib ketika berada di hadapan sosok yang lebih tinggi derajatnya. Di hadapan seorang pemimpin, guru, atau tokoh yang dihormati, seseorang akan menjaga sikap, menahan gerak, dan berbicara dengan penuh pertimbangan. Jika demikian fitrahnya, lantas bagaimanakah seharusnya seorang hamba berdiri di hadapan Allah? Di sinilah letak inti dari makna “qiyam” dalam shalat.

Berdiri menjadi simbol kesadaran penuh bahwa kita sedang menghadap kepada Dzat Yang Maha Agung. Jadi ini bukan sekadar soal posisi tubuh yang berdiri. Karena itu, gerakan harus terjaga, hati harus hadir, dan pikiran harus dipusatkan hanya kepada Allah SWT. Dan inilah adab tertinggi di sini, yakni menghadirkan diri secara lahir dan batin sekaligus.

Posisi Tangan: Menjaga Keseimbangan Ruhani

Posisi tangan dalam shalat, yang mana dianjurkan diletakkan di bawah dada, tangan kanan di atas tangan kiri, bukanlah gerakan tanpa makna. Secara simbolik, posisi tersebut menjaga seorang manusia dari dua tarikan ekstrem, yaitu kecenderungan menuju “alam atas” (spiritualitas tanpa kendali) dan “alam bawah” (materialisme yang berlebihan). Dengan posisi demikian, manusia ditempatkan dalam keseimbangan (tawazun). Artinya tidak melayang tanpa pijakan, dan tidak tenggelam dalam keduniaan.

Ibadah shalat, dengan demikian, mendidik manusia untuk stabil secara spiritual. Menjaga diri agar tetap tenang, seimbang, dan terkendali.

Menundukkan Kepala: Meruntuhkan Kesombongan

Leher dalam perspektif simbolik adalah representasi keangkuhan dan kebanggaan diri. Orang yang sombong cenderung menegakkan kepala; sebaliknya, orang yang rendah hati akan menundukkannya.Dalam shalat, kepala ditundukkan sebagai bentuk pengakuan bahwa tidak ada yang layak diagungkan selain Allah. Oleh karena itu, menundukkan kepala ini bukan sekadar gestur, tetapi latihan psikologis yang terus diulang agar kesombongan terkikis sedikit demi sedikit.

Jika ini dihayati, shalat akan menjadi benteng terhadap penyakit hati yang paling berbahaya, yaitu kesombongan diri. Sikap ini sejalan dengan firman Allah:

“Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37)

Maka, jika ibadah shalat ditunaikan dengan benar, ia akan membentuk pribadi yang rendah hati.

Sujud: Puncak Kehinaan, Pintu Kemuliaan

Di antara seluruh gerakan shalat, sujud adalah yang paling sarat makna. Wajah, sebagai bagian tubuh paling mulia, ternyata diletakkan di atas tanah yang merupakan simbol unsur paling rendah. Hakikatnya, hal ini adalah simbol totalitas penghambaan. seakan-akan seorang hamba berkata: “Wahai Tuhanku, aku letakkan yang paling mulia dariku di atas yang paling hina, karena aku sadar Engkaulah Yang Maha Tinggi.”

Namun demikian, justru di titik kehinaan itulah manusia mencapai kemuliaan. Karena ini adalah momentum seorang hamba untuk mendekat kepada Allah. Terkait hal ini Rasulullah bersabda:

 “Keadaan seorang hamba yang paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR Muslim)

Jadi, gerakan sujud ini benar-benar mengandung makna filosofis. Sujud bukanlah berarti merendahkan martabat manusia, justru sebaliknya, dengan sujud ini derajatnya akan diangkat oleh Allah ke derajat yang lebih tinggi. Semakin sering seseorang bersujud, semakin dekat ia kepada Allah. Dan kedekatan itu bukan sebagai konsep spiritual belaka, tetapi sangat berdampak nyata dalam menjaga diri dari dosa, membersihkan jiwa, dan meninggikan derajat.

Tasyahud dan Shalawat: Etika Menghargai Perantara

Setelah mencapai puncak kedekatan dalam sujud, shalat tidak langsung ditutup. Ada tasyahud dan shalawat. Ini juga mengandung pesan penting. Nabi Muhammad SAW adalah perantara terbesar antara manusia dan Allah. Melalui beliau, manusia mengenal Islam, memahami ibadah, dan menemukan jalan menuju Tuhan. Karena itu, terkait Nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman dengan tegas memerintahkan kepada kita:

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Maka, membaca shalawat adalah bentuk penghargaan dan rasa terima kasih. Ini juga menunjukkan bahwa dalam Islam, adab terhadap perantara kebaikan tidak boleh diabaikan. Jangan seperti orang yang mendapatkan bantuan, lalu melupakan jasa orang yang membantunya. Bahkan penyebutan Nabi Ibrahim AS dalam shalawat mengandung makna historis. Beliau adalah nabi yang memohon kepada Allah agar diutus seorang rasul dari keturunannya yang kelak diharapkan menyampaikan petunjukan Tuhan kepada umat manusia.  

Maka menyertakan Nabi Ibrahim dan keluarganya di dalam shalawat adalah bentuk penghormatan terhadap mata rantai kebaikan itu.

Salam: Menutup Ibadah dengan Kesadaran Sosial

Menariknya, shalat tidak ditutup dengan dzikir personal semata, tetapi dengan salam, dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Ini isyarat bahwa setelah berkomunikasi dengan Allah, seorang muslim selayaknya kembali ke masyarakat dengan membawa kedamaian. Jadi, ibadah shalat tidak memutus hubungan sosial, tapi justru memperbaikinya. Salam juga berarti dirinya sedang menyapa malaikat di sekitarnya, Karena Allah menyebut hamba yang sedang shalat dan bersujud itu di hadapan para malaikat-Nya serta memujinya, maka hal itu menjadi sebab timbulnya kerinduan para malaikat untuk melihat dan mengunjunginya.

Maka ketika seseorang selesai dari shalatnya, ia mengucapkan salam kepada mereka (para malaikat). Ia memulai dari sebelah kanannya, karena malaikat di sebelah kanan lebih utama daripada malaikat di sebelah kiri. Dan karena adab menuntut untuk memuliakan para tamu, maka bagaimana lagi jika yang datang itu adalah para malaikat yang dekat (kepada Allah) dan suci? Apalagi kunjungan itu terkait dengan perkara yang mulia ini (yaitu shalat). Maka ucapan salam di akhir shalat itu adalah wujud memuliakannya.

Penutup: Shalat sebagai Sebuah Kebutuhan

Jika seluruh makna ini dipahami, maka shalat tidak lagi menjadi beban, tetapi kebutuhan. Shalat bukanlah sekadar ibadah yang diwajibkan, tetapi sarana untuk menjadikan diri selalu dekat dengan Allah. Dan secara tidak langsung, jika makna filosofis gerakan shalat ini dihayati, maka kita akan menemukan hikmah yang terkandung di dalamnya. Ibadah shalat mengajarkan adab di hadapan yang lebih tinggi, keseimbangan dalam hidup, kerendahan hati, makna kedekatan dengan Allah, penghargaan terhadap perantara kebaikan, dan tanggung jawab sosial. Selama shalat hanya dipahami sebagai rutinitas, tentu ibadah ini akan terasa berat. Tetapi ketika dipahami sebagai perjalanan ruhani yang utuh, maka ibadah shalat ini bisa menjadi sumber kekuatan. Oleh karena itu, kita harus menjaga kualitas shalat, karena di dalamnya ada seluruh fondasi kehidupan seorang muslim yang beriman. Wallahu a’lam bis shawab.

 


Editor: Achmad Firdausi