Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Membaca Kembali Kode Etik di Tengah Dinamika Kehidupan Kampus

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Rabu, 3 Juni 2026
  • Dilihat 237 Kali
Bagikan ke

Oleh: Suwantoro

(Dosen FTIK UIN Madura)

Selama ini kita pahami bahwa kampus dikenal sebagai ruang yang tidak hanya berfungsi untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, cara berpikir, dan kedewasaan seseorang. Kehidupan akademik berjalan melalui perpaduan antara aturan yang tertulis dan kesadaran yang tumbuh dari setiap individu yang menjadi bagian darinya. Suasana belajar yang tertib, saling menghormati, dan menghargai proses keilmuan tidak lahir begitu saja. Semua itu tumbuh dari kebiasaan yang dipelihara bersama. Sejalan dengan pandangan ini, kehidupan kampus selalu memiliki hubungan yang erat dengan persoalan etika yang hadir dalam berbagai bentuk keseharian.

Seiring dengan berputarnya waktu yang mengakibatkan perubahan zaman, dampaknya cukup banyak terhadap kehidupan kita semua tak terkecuali mahasiswa. Kehadiran teknologi digital, media sosial, serta arus informasi yang bergerak sangat cepat ikut membentuk cara generasi muda berinteraksi dan menampilkan dirinya. Setiap generasi memiliki kebiasaan dan cara pandang yang berbeda dari generasi sebelumnya. Perbedaan tersebut merupakan bagian yang wajar dari perjalanan masyarakat yang terus berubah. Kampus sebagai bagian dari kehidupan sosial tentu tidak dapat memisahkan diri dari setiap perubahan yang terjadi. Setiap perkembangan yang terjadi menghadirkan tantangan sekaligus peluang baru untuk belajar menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai-nilai yang selama ini dijaga bersama.

Perbincangan mengenai nilai etika selalu menarik karena persoalannya tidak pernah berhenti pada aturan tertulis. Etika lebih dekat dengan kesadaran seseorang saat berhadapan dengan lingkungan tempat ia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Banyak hal yang dapat diatur melalui berbagai ketentuan resmi, tetapi tidak sedikit pula yang hanya dapat dijaga melalui kesadaran pribadi. Itulah sebabnya pembahasan mengenai etika selalu menemukan relevansinya. Perubahan sosial boleh terus berlangsung, tetapi kebutuhan untuk menjaga kepantasan dan penghormatan terhadap ruang bersama tetap menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan.

Salah satu hal yang sesekali menjadi bahan refleksi kita bersama adalah ketika sering melihat bagaiamana cara sebagian mahasiswa kita menampilkan dirinya di lingkungan kampus. Perguruan tinggi pada dasarnya sudah memiliki berbagai pedoman mengenai kehidupan akademik. Akan tetapi, problemnya adalah tidak semua persoalan dapat diselesaikan melalui aturan yang tertulis pada dokumen resmi tersebut. Ada wilayah yang hanya dapat dijaga melalui kedewasaan dalam memahami situasi dan kemampuan menempatkan diri secara proporsional. Persoalan tersebut bukan semata tentang benar atau salah, melainkan tentang bagaimana cara pandang seseorang dalam memahami ruang yang sedang ia tempati.

Perbincangan mengenai etika dan kepantasan di lingkungan kampus sering kali dipersepsikan sebagai upaya mencari pihak yang patut dinilai atau dipersoalkan. Padahal yang hendak dibangun bukanlah penilaian terhadap pihak tertentu, melainkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga etika dalam kehidupan akademik. Kita semua harus meyakini bahwa semua pihak sedang berada pada proses belajar memahami keseimbangan antara kebebasan pribadi dan tanggung jawab sosial. Kampus juga terus mengupayakan penyesuaian diri dengan perubahan yang terjadi tanpa kehilangan identitasnya sebagai ruang ilmu pengetahuan. Refleksi semacam ini lebih tepatnya dipahami sebagai ajakan untuk menjaga nilai-nilai yang selama ini menjadi bagian dari budaya akademik.

Barangkali peribahasa lama yang berbunyi di mana bumi dipijak, di situlah langit dijunjung masih relevan untuk menggambarkan persoalan ini. Ungkapan tersebut mengandung pesan sederhana bahwa setiap tempat memiliki nilai, kebiasaan, dan etika yang patut dihormati bersama. Kampus pun memiliki karakter yang serupa. Sebagai ruang akademik, kampus bukan tempat yang harus dipenuhi berbagai pembatasan yang berlebihan, tetapi tetap memiliki ukuran kepantasan yang menjadi bagian dari kehidupan ilmiah.

Pemaknaan terhadap kepantasan akademik tidak seharusnya dipahami sebagai penolakan terhadap perubahan. Dunia pendidikan terutama tingkat perguruan tinggi tetap perlu memberikan ruang bagi perkembangan zaman dan kebebasan berekspresi. Harus diyakini bahwa setiap generasi memiliki gaya, selera, dan cara menampilkan identitas yang berbeda. Hal semacam itu merupakan bagian dari kehidupan sosial yang selalu bergerak. Kampus tidak perlu menutup diri terhadap perubahan selama perubahan tersebut dipastikan mampu menyeimbangkan antara Kebebasan berekspresi dan penghormatan terhadap ruang akademik dapat berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.

Keseimbangan itulah yang sering kali menjadi bahan renungan bersama. Kebebasan berekspresi tentu memiliki tempat yang layak pada kehidupan mahasiswa. Akan tetapi, kebebasan juga memerlukan kesadaran agar tidak kehilangan arah. Kampus bukan sekadar tempat menghadiri perkuliahan atau menyelesaikan tugas akademik. Kampus merupakan ruang pembentukan karakter, sikap, serta tanggung jawab sosial. Proses pendidikan berlangsung bukan hanya melalui materi yang diajarkan di ruang kuliah, melainkan juga melalui kebiasaan sehari-hari yang membentuk cara seseorang membawa dirinya saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Tidak semua bentuk etika harus lahir dari pasal dan ketentuan tertulis. Ada sikap-sikap tertentu yang dijalankan bukan karena kewajiban administratif, melainkan karena rasa hormat terhadap lingkungan tempat seseorang belajar dan bertumbuh. Seseorang mungkin tidak menemukan larangan secara eksplisit pada sebuah dokumen yang sudah disahkan laykanya kode etik, tetapi dirinya tetap harus memahami batas kepantasan yang harus dijaga. Kesadaran semacam inilah yang sering kali menjadi penopang lahirnya budaya akademik yang baik.

Kiranya perlu ditegaskan sekali lagi bahwa kegelisahan dalam tulisan ini sesungguhnya hanyalah “Bagian dari sekaligus upaya dalam” dengan berupa tulisan refleksi sederhana atas kehidupan kampus yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Tulisan inipun tidak dibuat untuk menyalahkan siapapun apalagi ingin membatasi kebebasan berekspresi. Hanya saja harus dipahami bahwa tidak semua etika harus lahir dari aturan dan teguran. Ada pula yang tumbuh dari kesadaran untuk menghargai ruang bersama dan menempatkan diri secara pantas. Semoga budaya akademik yang baik di kampus kita tercinta ini tetap tumbuh dan mengakar, sehingga kode etikpun tidak hanya lahir sebagai pedoman tertulis yang rapi, tetapi juga menjelma menjadi kesadaran bersama yang hidup dalam budaya kampus sehari-hari. Aamiin

 


Editor: Achmad Firdausi