Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Salam Langsung Kepada Rasulullah Dan Kedua Sahabatnya

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Jumat, 19 Juni 2026
  • Dilihat 628 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Pembimbing Ibadah Haji Kloter SUB 74 & Ketua Prodi. Doktor Ilmu Syariah UIN Madura)

Sebelum para jemaah memasuki Raudhah, lebih dahulu mereka mengaturkan salam kepada Rasulullah dan kedua sahabatnya yang dimakamkan dalam satu area pemakaman. Jadi hanya ada tiga makam di area makam Rasulullah, yakni makam beliau sendiri, sahabat Abu Bakar dan Umar. Setiap jemaah yang melintasinya, mereka terlebih dahulu menyampaikan salam kepada Rasulullah dan kepada kedua sahabatnya, bahkan banyak dari para jemaah haji yang menyampaikan salam kepada Rasulullah dari pelataran Masjid Nabawi, karena mereka tidak bisa mengakses masuk ke dalam Masjid Nabawi, sehingga mereka memanfaatkan momentum berada di halaman Masjid Nabawi dan lurus dengan makam Rasulullah, mereka menyampaikan salam kepada beliau dan kepada kedua sahabatnya, sambil lalu mereka mencari celah waktu untuk bisa masuk melewati lorong yang bisa dilalui di depan Raudhah dan makam Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Dengan adanya akses mereka bisa melalui lorong tersebut sudah merasa bahagia dan puas, walaupun belum bisa mendapatkan izin untuk bisa masuk ke Raudhah. Untuk bisa melalui lorong tersebut dan masuk ke Raudhah memang diatur sedemikian rupa oleh pemerintah Arab Saudi selaku pemegang kekuasaan di Masjid Nabawi. Di sana para jemaah sudah disambut oleh para petugas penyelenggara haji Arab Saudi, baik yang di daerah kerja Madinah maupun petugas sektor yang banyak di Madinah, serta seksi khusus bagian pemegang tasreh (izin untuk masuk ke Masjid Nabawi atau Raudhah). Mereka yang sudah mendapatkan izin diarahkan dan digiring oleh para askar serta relawan yang ratusan jumlahnya untuk mengawal mereka menuju Raudhah dan dikasih limit waktu sekitar 10-15 menit untuk sekedar shalat sunnah dan munajat. Setelah waktunya habis mereka disuruh keluar dan diganti oleh jemaah lain yang mendapatkan kesempatan. Begitulah terus berlangsung pengaturan atau regulasi itu diterapkan secara ketat untuk memberikan kesempatan dan rasa keadilan bagi para jemaah haji untuk bisa munajat kepada Allah di Raudhah yang diyakini tempat yang maqbul bagi siapapun yang berdoa di dalamnya.

Raudhah merupakan salah satu bagian yang berada di dalam Masjid Nabawi, Madinah, yang begitu istimewa. Namanya saja Raudhah, yang berarti "taman". Makanya sering disebut sebagai "Taman Surga", dan sering  dikaitkan langsung dengan pernyataan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dan karena keistimewaannya. Lebih dari itu, area tersebut diyakini penuh dengan keberkahan, Raudhah juga menjadi destinasi bagi para jemaah haji dan umrah untuk beribadah

Rasulullah saw. bersabda:

 ما بين بيتي ومنبري روضة من رياض الجنة

Area yang berada antara rumahku dan mimbarku merupakan salah satu taman dari taman-taman surga.

Hadits tersebut menunjukkan keistimewaan area tersebut yang memberikan makna spiritual yang mendalam bagi umat Islam, Jemaah haji dan umroh khususnya. Raudhah dijadikan sebagai tempat yang tidak hanya penuh kedamaian tetapi juga penuh rahmat.

Sebelum memaasuki area sekitar Raudhah dan makam Rasulullah, para jemaah menyampaikan salam kepada Rasulullah dan kedua sahabatnya. Begitu pula, sebelum mereka meninggalkan area ini, nantinya akan melewati makam Rasulullah. Pada saat itu, mereka juga dianjurkan untuk memberi salam pada Nabi. Allah saja dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, masak umatnya tidak mau bershalawat? Allah berfirman dalam surah Al-Ahzab: 56

 

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.

Terdapat tuntunan bacaan salam pada Nabi yang dapat diucapkan saat melewati makam Nabi dalam perjalanan meninggalkan Raudhah:

السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا خِيْرَةَ اللهِ مِنْ خَلْقِهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ المُرْسَلِيْنَ وَخَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ، السَّلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِكَ وَأَصْحَابِكَ وَأَهْلِ بَيْتِكَ وَعَلَى النَّبِيِّيْنَ وَسَائِرِ الصَّالِحِيْنَ

Salam sejahtera bagimu wahai Rasulullah, salam sejahtera bagimu wahai makhluk pilihan Allah, salam sejahtera bagimu wahai kekasih Allah, salam sejahtera bagimu wahai penghulu para rasul dan penutup para nabi, salam sejahtera bagimu, keluargamu, sahabatmu, anggota keluargamu, para nabi, dan semua orang saleh.

Setelah itu, karena di sebelah makam Nabi terdapat makam Abu Bakar dan Umar, maka saat melewatinya dianjurkan untuk mengucap salam kepada keduanya:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ , السَلَامُ عَلَيْكَ يَا خَلِيْفَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفِيَّهِ وَثَانِيَهِ فِي الغَارِ جَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرًا

Salam sejahtera bagimu, wahai Abu Bakar, salam sejahtera atasmu wahai penerus Rasulullah di umatnya, semoga Allah meridhoi dan membalasmu dengan kebaikan atas umat Muhammad.

Kemudian juga mengucap salam pada Umar bin Khattab:

سَلَامُ عَلَيْكَ يَا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ٬ عُمَرُ الفَارُوْقُ٬ الَّذِيْ أَعَزَّ اللهُ بِهِ الإِسْلَامَ جَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرًا

Salam sejahtera wahai ‘Umar, wahai pemimpin orang-orang beriman, semoga Allah meridhoi dan membalasmu dengan kebaikan atas umat Muhammad.

Semoga kita mendapatkan syafa’at Rasulullah di hari kiamat nanti, dan berkumpul, berdampingan bersama beliau serta para sahabatnya di surga. Amin (Madinah, 16 Junii 2026/1 muharram 1448 H).

 


Editor: Achmad Firdausi