Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 898-9700-500

Email

info@uinmadura.ac.id

Semangat Ibadah Tinggi Sewaktu Haji: Kuantitas Vs Kualitas

  • Diposting Oleh Achmad Firdausi
  • Selasa, 2 Juni 2026
  • Dilihat 160 Kali
Bagikan ke

Oleh: Dr. H. Imam Amrusi Jailani, M.Ag.

(Pembimbing Ibadah Haji Kloter SUB 74 & Ketua Prodi. Doktor Ilmu Syariah UIN Madura)

Tujuan utama dari ibadah haji adalah mengharap ridha Allah subhanahu wa ta'ala, karena dengan ridha Allah subhanahu wa ta'ala diyakini bahwa semua jemaah haji akan menjadi mabrur hajinya. Haji mabrur itulah harapan dari semua jemaah haji. Semua harus yakin bahwa dirinya dan semua orang yang bersama dengannya hajinya mabrur dan mungkin tidak ada yang tertolak (mardud).

Secara realitas, intensitas ibadah dari jemaah haji sangat tinggi dan semangatnya selalu menggebu-gebu. Mungkin salah satu faktornya adalah faktor tanah haram yang begitu besar barokahnya jika dibandingkan dengan tempat-tempat lain di luar haram, sehingga mereka yang biasanya tidak shalat berjemaah, kemudian di Mekkah dan Madinah selalu berusaha untuk shalat berjemaah. Begitu pula dengan ibadah-ibadah sunnah yang lain, seperti umroh sunnah, mereka selalu mengejar untuk bisa melaksanakan umroh tersebut di sela-sela waktu senggang mereka. Bahkan ada di antara mereka yang umrohnya sampai 10 kali atau lebih. Walaupun ada juga di antara mereka yang hanya menunaikan dua kali saja untuk umroh sunnahnya.

Begitu pula intensitas ke Masjidil Haram, walaupun jaraknya cukup jauh harus ditempuh dengan transportasi bus sholawat, mereka berusaha untuk selalu bisa sampai ke Masjidil Haram, minimal satu kali dalam sehari semalam atau dua kali siang dan malam. Padahal sewaktu di kampung halamannya tidak demikian. Apakah ini karena faktor x yang tidak bisa diuraikan, atau sekedar faktor tempat yang diyakini berlimpah barokah, atau benar-benar masuk di dalam kesadaran tentang relasi dirinya dengan Allah, sehingga semua amalan atau ibadahnya selalu dalam koridor mengharap ridha dari Allah subhanahu wa ta'ala. Begitu juga mereka sangat bersungguh-sungguh untuk bisa berlama-lama di Masjidil Haram dan untuk sekedar menyentuh dinding Ka'bah, karena diyakini begitu besar barokahnya, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit mereka juga berusaha untuk bisa mencium Hajar Aswad, karena juga keyakinan yang begitu besar bahwasanya batu itu adalah batu surga yang ditaruh di Baitullah.

Bergeser ke Madinah, mereka juga bersungguh-sungguh untuk mempertahankan shalat Arba’in, yaitu shalat berjemaah selama 40 kali di Masjidil Nabawi secara bertutrut-turut, karena ada riwayat yang menerangkan bahwa Arba’in itu akan mengantarkan pengamalnya atau memudahkan mereka masuk ke surga, sehingga mereka berusaha dan menjaga betul agar shalat fardhu yaitu selalu berjemaah di Masjidil Nabawi. Terlepas apakah itu karena keberadaannya mumpung di Mekkah atau Madinah, atau dalam keyakinan saya karena mereka semuanya berusaha untuk mendapatkan ridha Allah subhanahu wa ta'ala.

Intensitas yang tinggi menjadi indikator dari kuantitas dan berpengaruh pada kualitas  yang juga tinggi atau maksimal. Hal tersebut harus juga dibarengi dengan kualitas yang tinggi pula, sehingga semangat beribadah yang kuantitasnya itu begitu tinggi akan selaras dengan kualitas yang akan mereka dapat, yaitu pahala dan ridha dari Allah subhanahu wa ta'ala. Walaupun terkadang terdapat benang tipis antara kuantitas dan kualitas dari kadar ibadah seseorang, namun bisa dijadikan sebagai indikator penyerta, yaitu berupa semangat ibadah setelah mereka pulang ke rumah masing-masing di kampung halamannya, maka jika semangat ibadah itu tetap tinggi, maka indikator kualitas dari ibadah itu tetap melekat kepada kuantitas ibadah selama berada di tanah suci Mekkah dan Madinah. Akan tetapi jika semangat itu turun, redup, bahkan jika rendah dan sirna sama sekali, maka bisa dimungkinkan, walaupun tidak bisa dipastikan, bahwa kualitasnya tidak melekat pada kuantitas ibadah tersebut.

Namun kita tidak boleh su'uddzan terhadap mereka yang secara kuantitas ibadahnya banyak sekali di tanah suci, dengan semangat yang begitu menggebu-gebu, lantas menilai mereka hanya karena faktor tempat, yaitu Mekkah dan Madinah, mumpung berada di tempat yang penuh berkah, mubarok, mereka memaksimalkan ibadahnya. Kita harus hussnud dzan dan tetap berdoa semoga kuantitas ibadah mereka selaras dengan kualitasnya, sehingga keridhaan Allah tetap bersama mereka. Tetaplah selalu mengirim doa semoga semangat itu tetap bisa dipertahankan setelah mereka menjalani kehidupan di kampung halamannya. Toh walaupun demikian, dengan kuantitas yang tinggi, maka pahala tetap selalu akan mereka dapatkan, karena urusan pahala sejatinya adalah urusan Allah yang mengetahui ibadah itu Ikhlas, khusuk atau tidak, berharap ridha Allah atau tidak, semuanya yang mengetahui adalah Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tidak satupun orang yang mengetahui keikhlasan orang lain. Maka tetaplah kita memberikan apresiasi yang tinggi kepada mereka yang semangat dan intensitas serta kuantitas ibadahnya itu tinggi. Semoga tetap berada dalam Rahmat, ma’unah dan ridha Allah subhanahu wa ta'ala. Mabrur selalu untuk mereka. (Mekkah, 2 Juni 2026/16 Dzulhijjah 1447 H).

 


Editor: Achmad Firdausi